Keramikan Suoh

Keramikan Suoh

Wisata Keramikan Suoh ini mulai dibuka sekitar tahun 2004 dan mulai dikenal tahun 2006, letaknya berada di kaki Bukit Gunung Ratu, tepatnya berdekatan dengan Danau Minyak dan Danau Asam.

Wisata keramikan yang berada dalam kawasan hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) ini, juga sangat ramai dikunjungi selain karena pemandangannya yang indah dan juga unik serta berbeda dengan objek wisata lainnya sehingga memiliki daya tarik untuk dikunjungi.

Objek wisata Keramikan Suoh ini adalah berupa lahar yang mengeras, sehingga membentuk seperti semen yang berdekatan dengan sumber air panas dari bumi.

baca juga : Kebun Karet Trikora

Keramikan Suoh merupakan dataran yang berasal cairan dan pasir sulfur dari sumber panas Suoh yang sudah mengendap bertahun-tahun lamanya.

Warnanya yang putih kekuningan dan agak transparan membuatnya dijuluki Keramikan (keramik). Ketebalannya bervariasi, ada yang puluhan meter tapi ada yang tipis hanya seberapa sentimeter saja.

Fenomena aktivitas kawah dari sumber panas bumi keramikan di areal hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) Kabupaten di Lampung Barat, Provinsi Lampung itu, menyimpan pesona menakjubkan bagi pengunjungnya.

Letaknya tidak begitu jauh dari Danau Lebar dengan menyusuri savana ilalang yang kemudian oleh para pengunjung disebut “Bukit Telletubies”.

Hamparan lempengan batu, seperti kerak ketel uap panas mulai terlihat di depan mata. Sesekali di tengah dan ujung kaki bukit uap panas membumbung tinggi. Air panas itu pun terus menyembur pada beberapa sudut di sekitar kawah tersebut. Lapisan kerak itu disebut Keramikan berupa hamparan batuan yang mengeras laksana keramik.

Menurut masyarakat setempat, batuan ini berlapis-lapis dan bertambah luas. Di bawah hamparan yang mengeras seperti menyimpan sumber air panas yang tak pernah habis dan terus meletup-letup, pada beberapa bagian ada yang berukuran besar membentuk kubangan atau kolam, dan yang kecil serta mengalirkan air hangat. Saat melintas harus berhati-hati kalau menginjak kawasan Keramikan itu, karena masih banyak yang melanggar dan datang sendiri tanpa hati-hati, sehingga menghadapi masalah.

baca juga : Batu Granit Tanjung Bintang

 

Keramikan termasuk dalam kawasan zona pemanfaatan hutan TNBBS. Areal keramikan dan danau di sekita luasnya mencapai sekitar 1.000 ha.

Berdasarkan data dan informasi dari berbagai sumber, kawasan di zona pemanfaatan TNBBS itu menyimpan cerita dan kisah vulkanik termasuk cerita berbau mistis di dalamnya.

Gunung Ratu di kawasan ini pernah meletus pada 1933. Letusan itulah yang diyakini masyarakat membentuk empat danau, beserta sumber air panas dengan lempeng-lempeng mengeras di Keramikan.

Permukiman paling tua di kawasan ini adalah Pekon Hantatai dan Ratu Negeri Ratu. Lalu, berkembang menjadi 17 pekon atau kampung yang kini menjadi kantong permukiman atau enclave di taman nasional.

Suoh–sekarang sudah dimekarkan lagi menjadi Kecamatan Bandar Negeri Suoh–memendam salah satu fenomena vulkanik Cincin Api di Sumatera (Ring of Fire Sumatera).

Saat menuju Keramikan itu, pengunjung akan melintasi padang rumput (savana) yang disebut “Bukit Telletubies” serta empat danau: Asam, Belibis, Lebar, dan Seminyak.

Pada sela-sela savana itu ada pagar besi di beberapa cekungan sebagai tempat semburan api. Pada ujung barat, gugusan pegunungan memperlihatkan warna gelap dan terang yang disebut Pegunungan Loreng, dulu menjadi tempat kerbau liar yang berkeliaran di sekitarnya.

Ternyata, empat danau tersebut menyimpan kisah tersendiri, dan disebut Danau Asam lantaran mengandung kadar asam tinggi.

Danau Seminyak, selain berbau seperti minyak tanah–namun saat ini menurut warga setempat bau minyak ini kian menghilang–lapisan air di atas tak mau bercampur dengan lapisan bawahnya.

Sedangkan danau yang dihuni burung belibis hingga kini disebut dengan Danau Belibis. Danau yang paling luas semula adalah Danau Lebar yang membentuk hamparan air di kaki bukit hingga permukiman setempat. Namun danau ini kini makin menyempit antara lain karena sedimentasi. Danau yang lebih luas adalah Danau Asam.

Namun saat ini masyarakat sekitar sering datang setiap akhir pekan. Mereka dengan bebas menikmati pemandangan di tepi danau sampai Keramikan. Warga setempat berharap keunikan wisata ini dapat dikelola dan dikembangkan lebih lanjut bekerjasama dengan Balai Besar TNBBS.