Situs Wadu Pa’a

Situs Wadu Pa’a

Situs Wadu Pa’a letaknya tidak terlalu jauh dari pantai, pada sebuah dataran di tepian Teluk Wadu Pa’a, sebuah teluk kecil di sebelah barat daya teluk Bima. Tempat ini cukup terlindung dari angin dan arus laut yang kuat, sehingga merupakan tempat yang ideal sebagai tempat berlabuh. Apalagi dekat dengan lokasi situs terdapat sumber mata air yang dapat dipakai untuk minum dan menambah perbekalan para pelaut dan saudagar yang singgah. Dari pelabuhan Bima, lokasi Situs Wadu Pa’a ada di sebelah barat lautnya, sekitar 1 jam pelayaran dengan menggunakan speedboat. Dengan jalur darat dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda empat dari Bima melalui Sanolo – Soromandi – Wadu Pa’a dengan waktu tempuh sekitar 1 jam melalui jalan yang berkelok-kelok. Situs ini terletak di Desa Kananta, Kec. Soromandi, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.

Pada tebing pantai sebelah barat daya Teluk Bima, pada rangkaian tebing yang agak curam di sisi barat Doro Lembo (Bukit Lembo) ditemukan tinggalan budaya masa lampau yang berupa relief yang dipahatkan pada tebing. Sekeliling tebing merupakan tanah kering dan gersang yang hanya ditumbuhi beberapa tanaman keras dan perdu. Untuk mencapai lokasi tinggalan budaya ini dapat dicapai melalui laut dan darat dengan keadaan jalan yang rusak dan berdebu. Sekitar akhir abad ke-19 beberapa tinggalan budaya pengaruh kebudayaan India banyak ditemukan di pulau Sumbawa bagian timur.

baca juga : Pulau Ular

Situs Wadu Pa’a (Batu Pahat) merupakan salah satu situs “Candi Tebing”, seperti “Candi Tebing” di Gunung Kawi Tampak_siring, Bali yang memiliki nilai sejarah yang cukup tinggi. Dilihat dari temuannya, Wadu Pa’a merupakan tempat pemujaan ajaran Buddha tetapi bercampur dengan ajaran Hindu yang memuja Siwa dengan petunjuknya berupa relief Ganesa, Siwa Mahaguru, Dhyani_bud_dha, dan relief stupa dengan berbagai tingkat payung (chattra).

Tinggalan budaya masa lampau di Situs Wadu Pa’a dibagi dalam dua kelompok yang masing-masing kelompok berjarak sekitar 500 meter. Kelompok I letaknya di sebelah utara, dan Kelompok II letaknya di sebelah selatan di ujung Teluk Wadu Pa’a. Dilihat dari jumlah/macam pahatannya, Kelompok I merupakan kelompok yang terluas. Pada kelompok ini terdapat sekurang-kurangnya 21 pahatan dalam berbagai bentuk. Dimulai dari bentuk yang paling utara ke selatan, yaitu bentuk Agastya; prasasti; relief dalam ceruk yang berbentuk lingga, lapik, dan Buddha; relief stupa dengan chattra bersusun; Ganeśa; stupa dengan chattra yasti tunggal; relief lingga-yoni; relief lingga; mahluk gana; relief dua stūpa dengan chattra bersusun 15; stūpa dengan chattra bersusun 11; stupa dengan chattra tunggal; stūpa bercabang tiga; tiga dasar stūpa; relief Dhyanibuddha Aksobhya/Ratnasambhawa (mudra tangan kanan tidak jelas apakah bhumisparsa atau wara) yang diapit sepasang stupa dalam sebuah ceruk; relief dua stupa dalam sebuah ceruk; relief dua lingga di dalam ceruk; lingga-yoni di dalam ceruk; lingga yoni di dalam ceruk; relief dua stūpa di dalam satu ceruk; dan relief lingga-yoni di dalam ceruk.

baca juga : Pulau Kambing

Prasasti singkat dipahat_di bagian bawah relief arca Agastya, terdiri dari tiga kelompok pahatan tulisan. Ditulis dalam bahasa dan aksara Jawa Kuno. Keadaan tulisan sudah sangat aus sehingga hasil bacaannya tidak sempurna. Kalimat kelompok pertama tidak dapat terbaca, kelompok kedua terbaca sebagian “… Sake 631 (?), wesaka..”, dan kelompok pahatan ketiga terdiri dari dua baris kalimat yang berbunyi “… sapta dhya …” (pada baris pertama), dan “..lla..”. Hasil bacaan kelompok kedua mengindikasikan pertanggalan 631 Saka.

Pahatan pada Kelompok II letaknya sekitar 500 meter ke arah selatan dari Kelompok I. Pada kelompok ini terdapat pahatan relief yang menggambarkan tiga buah lapik, dan relief yang menggambarkan 16 buah stupa yang mengapit sebuah ceruk arca. Tepian ceruk ini memiliki pahatan berbentuk pilaster, sedangkan pahatan stūpa ada di sebelah utara ceruk.