Sejarah Tanjungpinang

Sejarah Tanjungpinang

Batam bukan satu-satunya kota andalah pariwisata di Provinsi Kepulauan Riau. Kota lainnya di Batam seperti Tanjungpinang juga menyimpan pesona wisata.

Berbeda dengan Batam yang lebih dikenal sebagai kota industri dan perdagangan, Tanjungpinang dikenal sebagai kota yang menyimpan sejarah kesultanan Riau. Anda harus bisa membedakan antara Tanjungpinang dan Pangkalpinang karena keduanya adalah dua daerah yang berbeda karena banyak yang menyamakan dan salah dengan dua daerah ini.

baca juga : Sejarah Tanjungbalai

Tanjungpinang tepatnya berada di Pulau Bintan. Sementara Pangkalpinang di Bangka Belitung. Tanjungpinang dikelilingi beberapa pulau kecil seperti Pulau Dompak dan Pulau Penyengat. Dahulu adalah pusat pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga.

Sebelum dimekarkan Tanjungpinang adalah ibukota Kabupaten Kepulauan Riau (sekarang Kabupaten Bintan). Kota ini juga awalnya adalah ibukota Provinsi Riau (meliputi Riau daratan dan kepulauan) sebelum kemudian dipindahkan ke Pekanbaru.

Asal nama Tanjungpinang memiliki arti tersendiri. Diambil dari posisinya yang menjorok ke laut dan banyak ditumbuhi sejenis pohon pinang. Pohon yang berada di Tanjung itu merupakan petunjuk bagi pelayar yang akan masuk ke Sungai Bintan sehingga Tanjungpinang menjadi pintu masuk ke Sungai Bintan, di mana terdapat kerajaan Bentan yang berpusat di Bukit Batu. Sehinga letaknya sangat strategis dan pusat kebudayaan Melayu serta lalu lintas perdagangan, menjadikannya sebagai kota yang cukup terkenal.

baca juga : Sejarah Tanggerang

Berdasarkan Sulalatus Salatin, Tanjungpinang dulunya merupakan bagian dari Kerajaan Malaka. Setelah jatuhnya Malaka ke tangan Portugal, Sultan Mahmud Syah menjadikan kawasan ini sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Malaka. Kemudian menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Johor, sebelum diambil alih oleh Belanda setelah mereka menundukkan perlawanan Raja Haji Fisabilillah tahun 1784 di Pulau Penyengat.

Pada masa Hindia Belanda, Tanjungpinang merupakan pusat pemerintahan Karesidenan Riouw. Kemudian di awal kemerdekaan Indonesia, menjadi ibu kota Provinsi Riau. Pada tahun 1957, Tanjungpinang menjadi ibu kota Provinsi Riau. Namun dua tahun kemudian ibu kota propinsi itu dipindahkan ke Pekanbaru.

Wisata Tanjungpinang

Kota Tanjungpinang memiliki cukup banyak daerah pariwisata seperti Pulau Penyengat yang hanya berjarak kurang lebih 2 mil dari Pelabuhan Sri Bintan Pura, Pantai Trikora dengan pasir putihnya terletak kurang lebih 65 km dari kota, dan Pantai Buatan yaitu Tepi Laut yang terletak di garis pantai pusat kota sebagai pemanis atau wajah kota (waterfront city).

Pulau Penyengat merupakan salah satu kawasan wisata di Kota Tanjungpinang. Pulau seluas 3,5 kmĀ² ini berada di sebelah barat Kota Tanjungpinang dan dapat ditempuh 15 menit dengan transportasi laut. Pada pulau ini terdapat banyak bangunan bersejarah dan makam yang telah dijadikan situs cagar budaya. Di pulau ini juga dijumpai kelenteng atau vihara di kawasan Kampung Bugis dan Senggarang, yang sekaligus menjadi kawasan wisata religi. Wisata lainnya juga dapat ditemukan di Pantai Impian, Tugu Pensil, Tepi Laut dan sebagainya.

Akses

Pelabuhan Laut Tanjungpinang di Sri Bintan Pura disinggahi kapal-kapal jenis feri dan feri cepat (speedboat) untuk akses domestik ke pulau Batam dan pulau-pulau lain seperti Kepulauan Karimun dan Kundur, serta kota-kota lain di Riau. Pelabuhan ini juga merupakan akses internasional ke Malaysia dan Singapura.