Sejarah Berdirinya Kota Tangerang

Sejarah Berdirinya Kota Tangerang – Kota Tangerang saat ini sudah berusia 25 tahun. Di usianya ini, Kota Tangerang sudah semakin berkembang dan menunjukkan dirinya sebagai “Kota Metropolitan” baru dipinggiran Kota Jakarta.Berdirinya Kota Tangerang tidak lepas dari sejarah perjuangan Kesultanan Banten dalam melawan Kolonialisme Belanda.

Baca juga : Awal Datangnya Tionghoa di Tasikmalaya

Nama “Tangerang” merujuk kepada suatu daerah yang berada di dekat Sungai Cisadane, yang dulunya dikenal dengan Untung Jawa.Menurut sejarah, lahirnya Kota Tangerang bermula dari sebutan kepada sebuah bangunan tugu berbahan dasar bambu yang digagas oleh Pangeran Soegiri, yakni putra Sultan Ageng Tirtayasa dari Kesultanan Banten.Tugu ini terletak di bagian barat Sungai Cisadane.

Masyarakat sekitar menyebut tugu ini dengan nama “Tengger” atau “Tetengger” yang dalam bahasa Sunda artinya adalah tanda atau penanda.Sesuai dengan julukan tersebut, fungsi dari tugu ini memang sebagai penanda untuk pembagian wilayah antara Kesultanan Banten dengan pihak VOC Belanda.

 

Wilayah Kesultanan Banten saat itu berada di sebelah barat dan wilayah yang dikuasai oleh VOC di sebelah timur Sungai Cisadane.Pada sekitar tahun 1652, saat itu penguasa Banten mengangkat tiga orang maulana, yang diberi pangkat Aria.

Ketiga maulana itu adalah kerabat jauh Sang Sultan yang berasal dari Kerajaan Sumedang Larang, yang bernama Yudhanegara, Wangsakara, dan Santika.Ketiganya diminta serta diutus untuk membantu perkonomian Kesultanan Banten dengan melakukan perlawanan terhadap VOC yang semakin merugikan Kesultanan Banten dengan sistem monopoli dagang yang diterapkan.

Dalam perjuangannya, ketiga maulana tersebut membangun benteng pertahanan hingga mendirikan pusat pemerintahan kemaulanaan yang menjadi pusat perlawanan terhadap VOC di Tigaraksa.Tetapi, dalam pertempuran melawan VOC, ketiga maulana gugur satu per satu. Aria Santika wafat pada tahun 1717 di Kebon Besar, Kecamatan Batuceper.

Aria Yudhanegara wafat pada tahun 1718 di Cikokol dan di tahun yang sama Aria Wangsakara wafat di Ciledug.Daerah disekitar benteng pertahanan yang dibangun oleh ketiga maulana ini disebut oleh masyarakat dengan istilah daerah Benteng. Hal tersebut juga menjadikan Kota Tangerang dikenal dengan sebutan Kota Benteng.

Mengapa istilah “Tangeran” berubah menjadi “Tangerang”?Dihimpun dari website resmi Pemerintahan Tangerang, Hal ini berawal pada 17 April 1684, saat ditandatanganinya perjanjian antara Sultan Haji atau Sultan Abunnashri Abdulkahar putra Sultan Ageng Tirtayasa pewaris Kesultanan Banten dengan VOC.Salah satu pasal perjanjian tersebut menyebutkan jika wilayah yang kala itu dikenal dengan “Tangeran” sepenuhnya menjadi hak milik dan ditempati oleh VOC.

Dengan adanya perjanjian ini, daerah Tangerang seluruhnya masuk kekuasaan Belanda. Saat itu, tentara Belanda tidak hanya berisi bangsa asli Belanda, tetapi juga merekrut warga pribumi, yakni Madura dan Makasar yang ditempatkan di wilayah Benteng.Tentara VOC yang berasal dari Makasar tidak mengenal huruf mati, dan sudah terbiasa menyebut “Tangeran” dengan “Tangerang”. Kesalahan ejaan inilah yang diwariskan dari generasi ke generasi lainnya hingga saat ini.

Nama Wilayah Tangerang menjadi nama resmi untuk pertama kalinya di masa pendudukan Jepang pada tahun 1942-1945. Pemerintah Jepang sempat melakukan pemindahan pusat pemerintahan Jakarta Ken (wilayah administratif setingkat Kabupaten) ke Tangerang yang dipimpin oleh Kentyo M. Atik Soeardi.Seiring berjalannya waktu, daerah Tangerang yang dulunya berbentuk Kabupaten Daerah Tingkat II mengalami perkembangan yang sangat pesat.
Letaknya sendiri berbatasan langsung dengan Ibu Kota, yang menjadikan beberapa kecamatan yang berbatasan langsung menjadi pusat dari kegiatan Pemerintah, Ekonomi, Industri dan Perdagangan, Politik serta Sosial Budaya.Pada 28 Februari 1981, Pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun1981 tentang Pembentukan Kota Administratif Tangerang. Lalu, Kecamatan Tangerang.