Pelabuhan Pulau Baai

Pelabuhan Pulau Baai

Pelabuhan Pulau Baai merupakan pelabuhan samudera yang dibangun oleh pemerintah pusat yang direalisasikan pada Pelita III (1979–1984). Pembangunan pelabuhan ini sebenarnya telah diusulkan oleh pemerintah daerah jauh sebelum Bengkulu menjadi propinsi pada tahun 1968, namun pembangunannya baru dapat terealisasi pada tahun 1980. Pelabuhan Pulau Baai merupakan pelabuhan lama yang dibangun kembali menjadi pelabuhan samudera. Latar belakang pembangunan pelabuhan ini karena pada saat itu Pelabuhan Bengkulu Tapak Paderi yang menjadi pintu gerbang ekspor-impor di Bengkulu mengalami kendala operasional dan tidak dapat berfungsi optimal.

Pelabuhan Pulau Baai terletak di Teluk Pulau atau lebih dikenal Teluk Selebar yang dahulu merupakan pintu masuk kapal-kapal asing yang ingin menjalin hubungan dagang dengan Kerajaan Silebar. Komoditi perdagangan utama daerah Bengkulu (Silebar) adalah lada. Daerah Bengkulu (Silebar) terkenal sebagai penghasil dan pemasok lada karena Kerajaan Silebar telah menjalin hubungan dagang dengan Kerajaan Banten yang pada saat itu pelabuhannya menjadi bandar perdagangan yang ramai. Perkembangan pelabuhan Banten menjadi bandar dagang pada masa pelayaran dan perdagangan niaga abad ke 16 berdampak positif bagi daerah Bengkulu menjadi terkenal sebagai daerah penghasil lada. Hal inilah yang menjadi daya tarik kerajaan-kerajaan besar seperti Kerajaan Aceh, Kerajaan Indrapura dan bangsa Barat (kolonial Inggris dan Belanda) untuk datang dan berusaha memonopoli perdagangan lada di Bengkulu.

baca juga : Pulau Tikus

Pada masa Orde Baru, pelabuhan lama Kerajaan Silebar ini direvitalisasi menjadi pelabuhan samudera untuk menunjang aktivitas ekspor-impor di Provinsi Bengkulu dan memperlancar arus ekspor hasil produksi daerah belakang (hinterland). Pembangunan Pelabuhan Pulau Baai direalisasikan pada Pelita III (1979-1984) sejalan dengan pembangunan ekonomi pada Pelita III yang menitikberatkan pada peningkatan ekspor baik dari sektor non migas. Selain itu program transmigrasi yang dimulai pada Pelita II menjadikan Bengkulu salah satu daerah tujuan transmigrasi juga turut mendukung dibangun sebuah pelabuhan yang berperan sebagai pintu gerbang arus masuk para transmigrasi ke daerah Bengkulu.

DCIM100GOPROG0121676.

Secara geografis, Pelabuhan Pulau Baai sangat strategis dan terbuka untuk perdagangan dalam negeri dan luar negeri karena berada di pantai barat Sumatera dan langsung berhadapan dengan Samudera Indonesia. Selain itu keberadaan pelabuhan Pulau Baai juga didukung dengan daerah hinterland yang potensial, terutama komoditi pertambangan, perkebunan dan pertanian. Dengan adanya potensi daerah yang memadai serta didukung oleh pelabuhan sebagai salah satu infrastruktur penggerak perekonomian, maka pembangunan pelabuhan menjadi sangat penting guna menarik investor untuk menanamkan modal.

baca juga : Kampung Cina

Pelabuhan Pulau Baai setelah resmi mulai beroperasi pada tahun 1984. Perkembangan pelabuhan mengalami kemajuan yang pesat karena didukung oleh hasil-hasil produksi dari daerah belakang yang meningkat dan membutuhkan pendistribusian melalui pelabuhan. Gerak aktivitas pelabuhan semakin mengeliat didorong oleh hasil produksi perkebunan yang diusahakan oleh rakyat dan pemerintah berupa karet dan kopi yang semakin meningkat. Aktivitas ekspor dari sektor perkebunan mulai menunjukan kemajuan yang berarti pada Tahun 1991 dengan berhasil menyalurkan ekspor perdana langsung ke Amerika Serikat berupa hasil produksi karet.

Selain itu pertambangan batubara yang mulai dieksplorasi pada Pelita III telah berproduksi dan menjadi komoditi ekspor andalan daerah Bengkulu yang setiap tahun mengalami peningkatan permintaan. Selain itu dari sektor perkebunan ekspor andalan dari Propinsi Bengkulu yang didistribusikan melalui Pelabuhan Pulau Baai adalah karet dan Crude Palm Oil (CPO). Dalam perkembangan selanjutnya sampai akhir Tahun 2000, pelabuhan ini mengalami pasang surut akibat kendala operasional yang menyebabkan semakin menurun aktivitas pelabuhan dan komoditas ekspor yang didistribusikan melalui pelabuhan. Kendala operasional yang dihadapi Pelabuhan Pulau Baai adalah masalah kondisi fisik alur pelayaran yang sangat dipengaruhi oleh sedimentasi di mulut alur masuk. Pendangkalan yang terjadi di alur masuk pelabuhan menghambat kapal-kapal yang akan masuk ke pelabuhan sehingga aktivitas bongkar-muat dari kapal-kapal besar tidak dapat dilakukan di dermaga, tetapi menggunakan tongkang. Meskipun Pelabuhan Pulau Baai sempat mengalami kendala opersional akibat sedimentasi yang tinggi, namun aktivitas pelabuhan terus meningkat sejak tahun 2000 dan mencapai puncak ekspor pada tahun 2018. Volume ekspor yang meningkat secara signifikan pada Tahun 2010 mencapai 2.052.155 ton merupakan pencapaian tertinggi dalam sejarah aktivitas ekspor di Pelabuhan Pulau Baai.