Meriam Honisuit

Meriam Honisuit

Pernah berkunjung ke Bengkulu? Jika memang pernah, saya yakin salah satu hal yang ada di benakmu ketika sampai di Bengkulu adalah bunga langka Rafflesia Arnoldi. Karena memang Bengkulu adalah habitat alami dari bunga langka tersebut, sehingga dijadikan sebagai salah satu ikon provinsi dengan penduduk sekitar 1,934 juta jiwa (2017) tersebut. Namun Bengkulu juga lebih dari itu, karena di sana pun terdapat banyak tempat wisata dengan keindahan alam yang menawan dan tak akan ditemukan di provinsi lainnya. Kamu akan menemukan banyak deretan pantai dengan pemandangan yang menawan di Bengkulu, karena memang provinsi ini berbatasan langsung dengan Samudera Hindia di bagian selatan. Banyaknya pegunungan yang membentang juga membuat Bengkulu memiliki banyak air terjun dengan pemandangan alam yang menyejukkan mata.

Namun tidak hanya wisata alam, di Bengkulu juga ada beberapa wisata sejarah yang sangat layak dikunjungi untuk mengisi hari libur. Selain Benteng Marlborough yang sudah terkenal itu, di Bengkulu juga ada Meriam Honisuit, yang disebut-sebut benda peninggalan sejarah terbesar yang pernah ditemukan di Indonesia.

Menurut informasi, Meriam Honisuit adalah senjata buatan Inggris. Kemudian Meriam Honisuit dibawa oleh tentara Jepang ketika menjajah Bengkulu Selatan sekitar tahun 1942 yang lalu, tepatnya di bawa ke Kota Manna melalui daerah Pagar Alam dan kemudian di tempatkan di kelurahan Belakang Gedung DPRD Kabupaten Bengkulu Selatan sebagai alat pertahanan pantai pasukan Kekaisaran Jepang dari serangan musuh. Meriam raksasa ini sendiri memiliki panjang sekitar 3,4 meter, bobot meriam mencapai 2,2 ton, dengan kaliber 19 sentimeter. Melihat dari dimensinya, tentu saja Meriam Honisuit adalah senjata yang cukup mematikan kala itu.

baca juga : Lubuk Sepit Kancing

Kemudian atas kesepakatan Dinas Purbakala Provinsi Jambi dan Pemda Bengkulu Selatan, pada 10 Januari 2008 Meriam Honisuit dipindahkan oleh KODIM 0408/BS ke Bundaran Jalan Raya Padang Panjang, Manna, Bengkulu Selatan. Namun tidak diketahui secara pasti alasan pemindahan meriam bersejarah tersebut.

Sementara itu, pada zaman dahulu disebutkan bahwa Meriam Honisuit memiliki meriam lain yang memiliki lebih dari tiga laras (multi laras), akan tetapi kini meriam tersebut sudah tak lagi terlihat. Tidak ada yang tahu secara pasti ke mana hilangnya meriam multi laras tersebut. Di sisi lain, dari informasi yang berhasil diperoleh, tetua Bengkulu Selatan mengungkapkan bahwa Meriam Honisuit memiliki suara letupan yang sangat keras. Bahkan ketika terjadi peperangan dan Meriam Honisuit digunakan, semua masyarakat Kota Manna akan mendengar secara jelas letupan suara dari Meriam Honisuit.

Dengan keunikan yang dimilikinya, tentu saja Meriam Honisuit berpeluang untuk menjadi ikon baru Bengkulu, khususnya Bengkulu Selatan. Karena memang Meriam Honisuit tidak akan ditemukan di daerah lainnya di Indonesia dan hanya bisa dijumpai di Kota Manna, yang di mana lokasinya sekitar 135 km dari Kota Bengkulu atau dengan waktu tempuh sekitar 3 jam 15 menit.

baca juga : Bunker Jepang

Keberadaan Meriam Honisuit sebenarnya juga bisa membuka peluang usaha bagi warga sekitar. Seperti halnya membuat kaos bergambar Meriam Honisuit, souvenir atau pun miniatur meriam, yang memang selama ini masih jarang ditemukan di Kota Manna.

Padahal Meriam Honisuit sendiri juga cukup ramai dikunjungi oleh para muda-mudi untuk sekedar menghabiskan waktu sore mereka. Tak jarang mereka yang datang ke Bengkulu tidak akan merasa lengkap tanpa berkunjung ke Meriam Honisuit. Jadi tidak mengherankan, banyak sekali para pengunjung yang memanfaatkan meriam raksasa itu sebagai latar belakang foto untuk dijadikan sebagai kenang-kenangan dari Bengkulu, khususnya dari Kota Manna.