Masjid Sultan Suriansyah

Masjid Sultan Suriansyah

Kota Banjarmasin boleh berbangga diri karena memiliki sebuah situs bersejarah berupa bangunan masjid. Tempat ibadah yang dibangun pada 1526 itu menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan terutama yang gemar berwisata religi dan menekuni cerita bersejarah.

Masjid itu memiliki nama resmi Masjid Sultan Suriansyah dan berlokasi di dekat Sungai Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Masyarakat setempat ada yang menyebutnya Masjid Kuin. Masjid yang berusia hampir 5 abad itu merupakan saksi bisu penyebaran agama Islam di tanah Banjar, yang kini 98 persen penduduknya memeluk agama Islam.

Dari segi arsitektur bangunan, masjid ini memiliki corak perpaduan budaya khas tradisional Banjar dan Demak. Yakni, berupa rumah panggung berbahan dasar kayu ulin dan beratap tumpang tiga dengan hiasan mustaka pada bagian atapnya. Atap tumpang tiga ini sangat mirip dengan Masjid Agung Demak yang lebih dulu dibangun pada 1474.

baca juga : Bukit Rimpi

Pada bagian interior masjid terdapat mimbar dari kayu ulin yang memiliki lengkungan berhias kaligrafi Arab. Di bawah tempat duduk mimbar terdapat undak-undak berjumlah sembilan yang dihiasi ukiran dengan motif sulur, kelopak bunga, dan arabes. Inkripsi tersebut semakin memperkuat kesan tradisional sekaligus memperlihatkan ciri khas budaya melayu yang mengalami akulturasi dengan budaya Arab.

Penyematan nama Sultan Suriansyah pada masjid itu tak lepas dari sejarah panjang yang menyertainya. Awalnya, Sultan Suriansyah dikenal dengan nama Pangeran Samudera yang merupakan cucu dari Maharaja Sukamara, raja Kerajaan Negara Daha (kini masuk wilayah Kabupaten Hulu Selatan).

Sebelum meninggal, Maharaja Sukamara berwasiat agar yang naik tahta menggantikan dirinya adalah Pangeran Samudera, yang merupakan putra dari anak perempuan Maharaja Sukamara, yakni Puteri Galuh, hasil pernikahan dengan Menteri Jaya.

Tetapi, putra Maharaja, Pangeran Tumenggung dan Pangeran Bagalung tidak menyetujui keputusan itu. Karena jika mengikuti jalur tradisi, pengganti raja yang mangkat seharusnya putera kandungnya.

Singkat cerita, suasana kerajaan memanas. Keselamatan Pangeran Samudera pun terancam. Atas inisiatif seorang punggawa bernama Arya Trenggana, Pangeran Samudera diminta untuk meninggalkan istana.

baca juga : Kelenteng Soetji Nurani

Pangeran Samudera mematuhi permintaan itu dan memulai pelarian dengan menyamar menjadi nelayan. Tak disengaja ia bertemu dengan Patih Masih di perkampungan Kuin. Ia lalu diangkat menjadi raja Kerajaan Banjar dan melepaskan diri dari Kerajaan Negara Daha.

 

Kepiawaian memimpin Pangeran Samudera berhasil memperluas wilayah kekuasaannya sampai daerah Muara Barito. Namanya pun kemudian dikenal banyak orang hingga sampai ke telinga Pangeran Tumenggung. Pangeran Tumenggung yang tidak terima keponakannya menjadi raja, mengarahkan pasukannya untuk berperang melawan Pangeran Samudera.

Dalam peperangan itu, Pangeran Samudera mengalami kekalahan kemudian meminta bantuan pada Kerajaan Demak. Permintaannya dikabulkan namun dengan syarat apabila pihak Pangeran Samudera yang menang, ia beserta rakyatnya harus memeluk agama Islam.

Akhirnya, Pangeran Samudera beserta pasukan berhasil menaklukkan lawan di medan perang. Sesuai janji, ia dan rakyatnya masuk agama Islam dan mengganti nama menjadi Sultan Suriansyah. Ia mencatat sejarah sebagai orang pertama dari kalangan Kasultanan Banjar yang memeluk Islam dan membangun masjid yang diberi nama Masjid Sultan Suriansyah.

Meski telah berusia 500 tahun, masjid Sultan Suriansyah masih terawat dengan baik. Setiap hari selalu ada wisatawan yang berkunjung, terutama hari Sabtu dan Minggu.

Daya tarik lain bagi para wisatawan, selain dari nilai sejarah masjid ini adalah berziarah ke makam Sultan Suriansyah yang hanya berjarak 200 meter dari masjid. Menurut keterangan penjaga, kompleks makam Sultan dulunya merupakan istana tempat Pangeran Samudera menghabiskan waktunya sebagai pemimpin Kerajaan Banjar. Ketenaran masjid ini menimbulkan pameo, “Jangan bilang pernah ke Banjarmasin kalau belum mengunjungi Masjid Sultan Suriansyah.”