Legenda Rawa Pening

Rawa Pening adalah sebuah danau yang menjadi obyek wisata di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Ada sebuah legenda turun temurun yang mengisahkan awal mula terbentuknya danau tersebut, yakni Legenda Rawa Pening.

Legenda Rawa Pening, Asal-usul Terbentuknya Danau di Semarang

Kisahnya dahulu kala terdapat sebuah desa bernama Ngasem yang terletak di lembah antara Gunung Merbabu dan Telomoyo. Di desa tersebut bermukin sepasang suami-istri bernama Ki Hajar dan Nyai Selakanta.

Pasangan suami istri ini dikenal pemurah dan suka menolong. Karena itu mereka sangat dihormati oleh masyarakat sekitar. Namun hidup mereka belum lengkap karena belum memiliki anak. Meski belum memiliki anak, Ki Hajar dan istrinya tidak pernah terdengar cekcok. Mereka selalu menyelesaikan masalah dengan musyawarah.

Baca juga : Cerita Rakyat Tentang Asal Usul Danau Toba

Hingga pada suatu hari, Nyai Selakanta duduk termenung seorang diri di depan rumahnya. Ki Hajar yang melihat lalu menghampiri dan duduk di samping sang istri.

Kepada sang suami, Nyai Selakanta menyampaikan keinginannya untuk bisa memiliki anak. Dia sampai meneteskan air mata saat berbicara dengan sang suami. Ki Hajar kemudian meminta izin istrinya untuk bertapa. Dia berharap dengan bertapa, keinginan istrinya untuk memiliki anak bisa terwujud.

Keesokan harinya, berangkatlah Ki Hajar ke lereng Gunung Telomoyo untuk bertapa. Selama ki Hajar bertapa, Nyai Selakanta dengan sabar menunggu. Hari demi hari, minggu ke minggu, bulan demi bulan. Namun sang suami tak kunjung datang. Hati Nyai Selakanta pun khawatir dengan keadaan suaminya.

Baca juga : Ilmuwan Ungkap Sejarah Awal Tindik Wajah

Suatu hari, Nyai Selakanta merasa mual lalu muntah-muntah. Ia berpikir bahwa dirinya sedang hamil. Ternyata dugaannya benar dan semakin hari perutnya semakin membesar. Setelah tiba melahirkan. Namun, dia terkejutnya ia karena anak yang dilahirkan yakni seekor naga.

Anak itu dinamainya Baru Klinthing yang diambil dari nama tombak milik suaminya. Kata ‘Baru’ berasal dari kata bra yang artinya keturunan Brahmana, yaitu seorang resi yang kedudukannya lebih tinggi dari pendeta. Sementara kata ‘Klinthing’ berarti lonceng.

Baca juga : Sejarah Manusia Purba

Meskipun berwujud naga, Baru Klinthing dapat berbicara seperti manusia. Nyai Selakanta pun terheran-heran melihat keajaiban itu.

Dia juga malu dengan warga karena melahirkan seekor naga. Nyai Selakanta berencana membawa Baru Klinthing ke Bukit Tugur agar jauh dari warga. Tapi sebelum itu, ia harus merawat Baru Klinthing hingga besar agar dapat menempuh perjalanan menuju ke lereng Gunung Telomoyo yang jaraknya cukup jauh. Nyai Selakanta merawat Baru Klinthing dengan sembunyi-sembunyi dan tanpa sepengetahuan warga.

Suatu hari Baru Klinthing tumbuh remaja dan ia bertanya tentang ayahnya. Nyai Selakanta tersentak kaget. Namun menurutnya sudah saatnya Baru Klinthing mengetahui sosok ayahnya.

Baca juga : Ingin Wisata Sejarah? Ini 4 Kota Tua yang Bisa Dikunjungi

Dia menyuruh Baru Klinthing untuk menyusul ayahnya yang sedang bertapa di lereng Gunung Telomoyo. Nyai Selakanta meminta Baru Klinthing membawa pusaka tombak Baru Klinthing milik ayahnya.

Kemudian Baru Klinthing berangkat menuju lereng Gunung Telomoyo. Dia melihat seorang laki-laki sedang duduk bersemedi. Mendengar jawaban itu, Baru Klinthing langsung bersembah sujud di hadapan ayahnya.

Ia kemudian menjelaskan siapa dirinya. Awalnya, Ki Hajar tidak percaya jika dirinya memiliki anak berujud seekor naga. Ketika naga itu menunjukkan pusaka Baru Klinthing kepadanya, Ki Hajar pun mulai percaya. Namun, ia belum yakin sepenuhnya.

“Baiklah, aku percaya jika pusaka Baru Klinthing itu adalah milikku. Tapi, bukti itu belum cukup bagiku. Jika kamu memang benar-benar anakku, coba kamu lingkari Gunung Telomoyo ini!” ujar Ki Hajar.

Baca juga : Asal Usul Mula ada Kehidupan di Bumi?

Baru Klinthing segera melaksanakan perintah tersebut untuk meyakinkan sang ayah. Dengan kesaktiannya, Baru Klinting berhasil melingkari Gunung Telomoyo. Akhirnya, Ki Hajar pun mengakui bahwa naga itu adalah anaknya. Setelah itu, ia kemudian memerintahkan anaknya untuk bertapa di Bukit Tugur, agar tubuhnya berubah menjadi manusia.

Sementara itu, ada sebuah desa bernama Pathok. Desa ini sangat makmur, namun penduduk desa sangat angkuh. Suatu ketika, penduduk Desa Pathok bermaksud mengadakan pesta sedekah bumi setelah panen. Untuk memeriahkan pesta, akan digelar berbagai pertunjukan seni dan tari. Berbagai makanan lezat disajikan sebagai hidangan bersama dan jamuan untuk para tamu undangan.

Para warga beramai-ramai berburu binatang di Bukit Tugur. Sudah hampir seharian berburu, namun belum satu pun binatang yang tertangkap. Ketika hendak kembali ke desa, tiba-tiba mereka melihat seekor naga bertapa. Naga ini adalah Baru Klinthing. Mereka pun beramai-ramai menangkap dan memotong-motong daging naga itu lalu membawanya pulang. Daging naga itu mereka masak untuk dijadikan hidangan dalam pesta.

Baca juga : Virus corona: Sejarah menunjukkan wabah bisa ubah peradaban dan meruntuhkan dinasti

Ketika para warga sedang asyik berpesta, datanglah seorang anak laki-laki yang tubuhnya penuh dengan luka sehingga menimbulkan bau amis. Anak laki-laki itu adalah penjelmaan Baru Klinthing.

Baru Klinthing pun ikut bergabung dalam keramaian itu. Dia meminta makanan kepada warga, namun tak satu pun yang mau memberi makan. Warga malah memaki-maki, bahkan mengusir Baru Klinthing.

Dia pun meninggalkan desa. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seorang janda tua bernama Nyi Latung. Nyi Latung yang baik hati itu pun mengajak Baru Klinthing ke rumahnya dan menghidangkan makanan lezat.

Dalam perbincangan, Baru Klinthing menyarankan agar warga diberi pelajaran. Dia meminta Nyi Lantung jika mendengar suara gemuruh, untuk segera menyiapkan alat menumbuk padi dari kayu.

Baru Klinthing kembali ke pesta dengan membawa sebatang lidi. Setiba di tengah keramaian, ia menancapkan lidi itu ke tanah. Dia meminta warga mencabut lidi yang ditancapkan.

Warga pun beramai-ramai mencabut lidi itu. Tak seorang pun dari mereka yang mampu mencabut lidi tersebut. Baru Klinthing segera mencabut lidi itu. Karena kesaktiannya, ia pun mampu mencabut lidi itu dengan mudahnya. Begitu lidi itu tercabut, suara gemuruh pun menggentarkan seluruh isi desa.

Air pun menyembur keluar dari bekas tancapan lidi itu. Semakin lama semburan air semakin besar sehingga terjadilah banjir besar. Semua penduduk langsung menyelamatkan diri. Namun, usaha mereka sudah terlambat karena mereka semua tenggelam. Desa itu pun berubah menjadi rawa atau danau yang kini dikenal dengan Rawa Pening.

Baru Klinthing lalu menemui Nyi Latung yang sudah menunggu di atas lesung yang berfungsi sebagai perahu. Dia selamat bersama nenek itu. Baru Klinthing lalu kembali menjadi naga untuk menjaga Rawa Pening.

Itulah legenda Rawa Pening. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah jangan memiliki sifat sombong dan tidak menghargai orang lain. Saling membantu dan tolong-menolonglah tanpa memandang latar belakang status yang ditolong.