Jembatan Mahakam

Jembatan Mahakam

Keberadaan Jembatan Mahakam adalah sebuah sejarah tersendiri yang tidak akan pernah dilupakan masyarakat Kota Samarinda, bahkan Kaltim secara umum. Bagaimana tidak, jembatan itu menjadi penghubung antara wilayah Kota Samarinda dan Samarinda Seberang yang terbelah oleh Sungai Mahakam.

Tidak hanya menghubungkan kedua wilayah itu, Jembatan Mahakam juga menjadi sejarah bagi pembangunan di Kota Samarinda dan Kaltim. Karena dengan hadirnya jembatan itu, aktivitas transportasi masyarakat menjadi mudah dan terbuka.

Dampaknya adalah tumbuh kembangnya ekonomi di Kota Tepian, sebutan Samarinda, pada khususnya. Lalu bagaimana sejarah awal terbangunnya Jembatan Mahakam?

Kami telah menyelidiki fakta atas pembangunan Jembatan Mahakam dari berbagai sumber :

baca juga : Monumen Perjuangan Rakyat

  1. Menghubungkan Dua Wilayah Besar di Samarinda

Sebelum dibangunnya Jembatan Mahakam, Samarinda terbagi menjadi dua wilayah, yakni Samarinda Kota dan Samarinda Seberang. Kedua wilayah terpisah oleh Sungai Mahakam yang memiliki jarak antara 300-500 meter. Jembatan itu dibangun dan diresmikan pada 3 Agustus 1986.

Dengan hadirnya jembatan itu, penduduk di kedua wilayah tidak lagi perlu menyeberangi Sungai Mahakam dengan menggunakan kapal ketinting atau perahu. Masyarakat dapat berjalan kaki tanpa mesti menggunakan prasarana transportasi air.

Jembatan Mahakam diresmikan oleh Presiden Soeharto, hal itu ditandai dengan penekanan tombol sirine serta pelepasan ratusan balon ke udara. Setelah itu, masyarakat Samarinda berbondong-bondong berjalan kaki menyeberangi jembatan.

baca juga : Tugu Australia

  1. Memiliki Panjang 400 Meter

Pembangunan Jembatan Mahakam menjadi infrastruktur pertama yang menghubungkan kedua daratan di Kota Tepian, Samarinda Kota dan Samarinda Seberang. Jembatan tersebut memiliki panjang sekitar 400 meter.

Tidak hanya itu, Jembatan Mahakam menjadi proyek kebanggaan dari Presiden Soeharto. Jembatan ini pada masa itu menghabiskan dana sekitar Rp7 miliar. Hadirnya Jembatan Mahakam menjadi sarana dan mobilitas penduduk Samarinda Kota dan Samarinda Seberang.

Dibangunnya Jembatan Mahakam ini, juga mendorong mobilitas masyarakat yang berada di sejumlah kabupaten/kota di Kaltim, misalnya yang berasal dari Balikpapan, Tenggarong atau Kutai Kartanegara [Kukar], atau Bontang untuk melintas di Samarinda. Masyarakat yang ingin ke daerah lainnya menjadi lebih cepat.

  1. Kebutuhan Akses Transportasi yang Cepat Jadi Pertimbangan

Sebelum dibangunnya Jembatan Mahakam yang memiliki lebar sekitar 10 meter itu, aktivitas masyarakat atau mobilitas kendaraan darat antar kedua wilayah di Samarinda Kota dan Samarinda Seberang, banyak bertumpu pada kapal feri. Moda transportasi air ini terbilang cukup memakan waktu berjam-jam jika arus lalu lintas sedang ramai.

Semakin tingginya kebutuhan transportasi yang cepat, mudah, dan murah, mendorong Pemerintah Kaltim memperjuangkan adanya pembangunan Jembatan Mahakam. Hasilnya, pemerintah pusat menyetujui adanya pembangunan jembatan tersebut.

Setelah adanya Jembatan Mahakam, aktivitas transportasi di Samarinda menjadi semakin mudah dan cepat. Masyarakat yang ingin ke daerah lainnya, misalnya ke Bontang dan Sangatta, juga sudah bisa lewat Samarinda, termasuk yang ingin ke Tenggarong.