Gedung Kesenian Sobokartti

Gedung Kesenian Sobokartti

Gedung Sobokartti tidaklah sepopuler Gereja Blenduk atau Lawang Sewu yang menjadi icon wisata dan landmark Kota Semarang.

Gedung Sobokartti yang terletak di Jln. Dr. Cipto No. 31-33 Semarang saat ini hanya dikenal oleh sebagian kecil masyarakat sebagai salah satu bangunan cagar budaya dan tempat yang menyelenggarakan berbagai kegiatan kesenian.Bahkan masyarakat Kota Semarangpun banyak yang tidak mengetahui keberadaan gedung Sobokartti yang telah berusia 83 tahun ini. Padahal bangunan ini menyimpan cerita sejarah perjuangan bangsa Indonesia untuk mencapai kesetaraan hak dalam seni budaya.

baca juga : Candi Gedong Songo

Latar belakang pembangunan Sobokartti

Pembangunan gedung Sobokartti tidak terlepas dari masa-masa penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Proses pembangunan gedung Sobokartti dilakukan pada masa diberlakukannya Politik Etis yang dilatarbelakangi oleh pandangan Ethische Richting yang beranggapan bahwa bangsa bumiputera dan bangsa Belanda harus bersatu karena mereka saling membutuhkan; juga pandangan bahwa ’Timur’ dan ’Barat’ harus saling mengisi dan melengkapi untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik demi kemajuan bangsa Indonesia di masa depan.

Pada masa itu nasionalisme muncul juga di bidang kebudayaan dan kesenian. Timbul kesadaran di kalangan terpelajar bahwa kebudayaan dan kesenian bumiputera tidak kalah dari kebudayaan dan kesenian Barat serta layak mendapatkan perhatian dan dipelajari secara serius.

Dalam suasana seperti itu muncul keinginan di kalangan pemuda pelajar untuk mempelajari kesenian keraton yang sebelumnya tidak bisa dipelajari dan dinikmati oleh masyarakat di luar keraton. Pemuda pelajar yang tergabung dalam Tri Kara Darma meminta kepada Sultan Hamengkubuwana VII dari Yogyakarta agar mereka boleh mempelajari kesenian keraton.

Permintaan tersebut dipenuhi oleh pihak keraton dengan mendirikan organisasi Kridha Beksa Wirama (KBW) pada 17 Agustus 1918. KBW merupakan wadah untuk menyebarluaskan pendidikan seni tari bagi masyarakat umum di mana KBW menyediakan guru-guru tari. Momentum itu menandai awal proses demokratisasi seni pertunjukan keraton Jawa.Sejak itu seni pertunjukan yang semula hanya berkembang di dalam keraton, seperti tari bedhaya, srimpi, wirèng dan wayangwong bisa dipelajari dan dinikmati masyarakat di luar keraton.

baca juga : Benteng Willem II

Tujuan pembangunan Sobokartti

Menyusul berdirinya KBW di Yogyakarta,di Semarang didirikan Volkskunstvereeniging Sobokartti atas prakarsa Mangkunagara VII dan Herman Thomas Karsten (seorang arsitek dari Belanda) pada 9 Desember 1920.Tujuan pendirian perkumpulan Sobokartti ini adalah untukmempromosikan kesenianbumiputera dan memperluasapresiasi kesenian inidi antarasemuakelompok masyarakat, khususnyapenduduk bumiputera. Kegiatan yang dilakukan antara lain pementasan, kursus, pameran, diskusi dan lain-lain. Adapun nama Sobokartti berasal dari Bahasa Jawa Kuno yaitu Sabhā yang berarti tempat atau ruang pertemuan dan Kīrti yang berarti perbuatan baik.

Desain Sobokartti

Untuk mewadahi kegiatan kesenian masyarakat umum yang diselenggarakan oleh Volkskunstvereeniging Sobokartti, Karsten membuat rancangan gedung Sobokartti. Gedung Sobokartti dirancang dengan memadukan konsep seni pertunjukan Jawa yang biasa dipentaskan di pendhapa keraton dengan konsep pementasan teater Barat.

Rancangan gedung ini ternyata tidak sekedar mempertimbangkan faktor-faktor arsitektur seperti estetika, penghawaan, pencahayaan dan akustik tapi juga masuk ke dalam diskursus tentang masa depan Indonesia. Melalui rancangannya Karsten berharap bisa mendirikan gedung pertunjukan yang sesuai dengan karakter seni pertunjukan Jawa, sekaligus mengkoreksi kesenjangan sosial yang ekstrem di masyarakat masa itu.

Rancangan Karsten didasarkan pada pemikiran bagaimana suatu teaterJawa akandibangun: ruangyangnyaman bagi sekelompok orang Jawa, tempat mereka dapat mendengarkan gamelan dan menonton wayang, duduk terlindung dan bisa melihat dengan jelas, bukan dengan panggung Eropa tapi panggung bergaya Jawa.

Namun dalam realisasinya gedung Sobokartti tidak sepenuhnya seperti rancangan Karsten karena keterbatasan dana. Kalau kita bandingkan gambar maket di atas dengan teater Sobokartti yang ada sekarang terlihat bahwa teater Sobokartti jauh lebih kecil dan sederhana dibandingkan rancangan awal Karsten.Namun demikian gedung Sobokartti tetap memenuhi prinsip dasarnya yaitu: berangkat dari sesuatu yang telah sejak dulu dipunyai orang Jawa (Indonesia) ditambah unsur-unsur ”Barat” sebagai pelengkap untuk menyempurnakannya.