Asal-Usul Berdirinya Kota Depok

Asal-Usul Berdirinya Kota Depok – Berdasarkan berbagai bukti sejarah yang ditemukan, diketahui bahwa Depok memiliki rangkaian peristiwa sejarah yang panjang. Dimulai dari masa prasejarah, khususnya periode bercocok tanam, masa kerajaan Sunda, awal masuknya Islam ke Indonesia, masa Pemerintahan Hindia Belanda, masa pendudukan Jepang, masa kemerdekaan, hingga sekarang.

Baca juga : Sejarah Kota Bekasi, Kota Patriot

Penamaan Depok sendiri masih menjadi bahan diskusi para ahli karena banyak pendapat mengenai asal-usulnya dipakainya nama “Depok” sekarang ini. Terdapat beberapa pendapat yang menarik mengenai Depok, di antaranya kata depok berasal dari singkatan dalam bahasa Belanda “De Eerste Protestants Onderdaan Kerk”, yang berarti “Gereja Kristen Rakyat Pertama”.

Akan tetapi pendapat tersebut rasanya perlu dikaji ulang dan memiliki banyak kelemahan informasi. Hal itu disebabkan nama depok sudah muncul dalam laporan seorang pejabat VOC dari Batavia yang melakukan eksplorasi ke pedalaman Sungai Ciliwung, bernama Abraham van Riebeeck tahun 1704 dan 1709.

Dengan demikian penamaan kata depok tidak ada kaitannya dengan penguasaan orang-orang Belanda terhadap wilayah Depok. Selain itu, tidak ada upaya pengembangan gereja Protestan pertama di wilayah Depok.

Pendapat lainnya mengatakan bahwa depok berasal dari kata “padepokan”, yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya tempat persemedian (pengasingan diri) raja-raja di Jawa pada masa lalu. Pendapat lainnya mengatakan bahwa padepokan merupakan tempat berdiamnya para pendeta atau orang yang menarik diri dari kehidupan dunia. Tafsiran dari arti depok yang berasal dari kata “padepokan” didukung oleh berbagai situs kuno yang dahulu digunakan oleh para pertapa untuk hidup menyepi mendekatkan diri kepada yang maha pencipta.

Depok menjadi bagian dari perjalanan sejarah Kerajaan Pajajaran yang berkuasa abad ke-10 M sampai 15 M. Kerajaan Pajajaran berkuasa pada wilayah sepanjang Sungai Ciliwung, salah satunya kerajaan Muara Beres.

Kemudian ketika Islam masuk ke Depok diperkirakan abad ke-16. Bersamaan dengan masuknya Islam ke Depok, adanya perlawanan Kerajaan Banten dan Cirebon setelah Jayakarta direbut oleh VOC. Depok menjadi wilayah kekuasaan VOC ketika terjadi kesepakatan antara Sultan Haji dari Banten dengan VOC pada 17 April 1684. Isi perjanjian menyebutkan bahwa Cisadane sampai hulu menjadi batas wilayah kekuasaan Kesultanan Banten dengan wilayah kekuasaan VOC.

Seorang tuan tanah, dan mantan pejabat VOC bernama Cornelis Chastelein membeli tanah yang luasnya mencakup Depok, wilayah Jakarta Selatan, dan Kabupaten Bogor yang luasnya 1.244 hektar pada 1696.

Ketika wafat, Chastelein mewariskan tanahnya tersebut kepada para pekerjanya yang terbagi menjadi 12 marga, yaitu Jonathans, Leander, Bacas, Loen, Samuel, Jacob, Laurens, Joseph, Tholens, Isakh, Soediro, dan Zadhok. Cornelis Chastelein dianggap sebagai pendiri dari Depok yang sekarang ini. Depok terus berkembang menjadi kawasan hunian untuk orang-orang Eropa.