Sejarah Kota Batu

Sejarah Kota Batu

Kota BATU, Kota yang letaknya paling puncak di Malang Raya, kota kecil mempesona yang di era Belanda dijuluki De Klein Switzerland atau Swiss kecil di Pulau Jawa. Kota ini baru resmi dibentuk pada tanggal 21 Juni 2001. Akan tetapi berdasarkan penelusuran sejarah dan peninggalan artefak Megalitiknya, Batu merupakan tanah tua yang telah dihuni oleh manusia sejarah jaman prasejarah.

Istilah Batu, dari mana asalnya? memang belum ada kesimpulan sejarah yang memastikan dari mana istilah ini bermula. Kita masih harus menelusuri dan menggalinya lebih dalam dengan melibatkan sejarahwan dan ahli bahasa kuno.

Namun dengan mengkaji beberapa sumber peninggalan sejarah lama, dapat kita temukan istilah yang sangat identik dengan Batu.

baca juga : Sejarah Binjai

Empat situs sejarah penting yaitu: prasasti Gunung Gaprang, prasasti Leran Kulon, prasasti Gulung-Gulung (dibuat pada jaman Mpu Sindok/929) dan kakawin terkenal Negarakertagama (pupuh 78.5)  menyebut-ngebut BATWAN sebagai sebuah desa yang diyakini sebagai daerah Batu sekarang. Batwan diterjemahkan sebagai BATU-AN atau bebatuan, yang dalam perkembangan bahasa berubah menjadi BATU.

Seperti yang telah diulas pada artikel-artikel sebelumnya, Batu pada abad 8 dan 13 merupakan bagian dari kekuasaan kerajaan lama, mulai dari Kanjuruhan dan Singhasari yang berpusat di Malang. Ketika Malang Raya lepas dari Karesidenan Pasuruan, Malang terbentuklah kabupaten dan kota Malang yang mandiri, dimana Batu menjadi bagian dari Kabupaten Malang.Reformasi bergulir tahun 1998 dimana terjadi banyak perubahan mulai dari mengundurkan dirinya Presiden Suharto dan bergulirnya otonomi daerah. Dampaknya hingga kemudian Batu memekarkan diri menjadi daerah yang mandiri, kota yang berdiri sendiri statusnya sama dengan kota Malang dan Kabupaten Malang.

baca juga : Sejarah Bengkulu

Batu, sama halnya dengan Malang kota ataupun kabupaten telah dihuni oleh manusia sejak jaman pra sejarah. Ini dibuktikan dengan temuan-temuan peninggalan kehidupan jaman lampau era Megalitik, seperti Lumpang Batu (watu lumpang), arfefak kuno berupa Lesung.

Sejarah mencatat dengan baik bagaimana banyaknya temuan – temuan arfefak kuno di Batu seperti arfefak tua yang pernah ditemukan di Desa Dadap Rejo, Pendem, Junrejo, Mojorejo, Beji, Pandanrejo, Lejar, Desa Sisir, dan Desa Pesanggrahan. Tak kurang dari 18 arfefak kuno jaman Megalitik ditemukan di Batu. Salah satu bentuk temuan tersebut adalah Lumpang Batu atau alat kuno jaman prasejarah berupa Pahatan / Lubang bulat di atas batu datar yang digunakan sebagai penumbuk biji-bijian hasil hutan/kebun/tani.

Temuan sejarah lainnya adalah Batu Dakon yang dulu ditemukan di Desa Pesanggrahan, yaitu Batu berlubang banyak yang digunakan sebagai alat hitung kuno mengetahui masa tanam dan juga sebagai pelengkap upacara spritual.

Bangunan berbentuk Punden juga pernah ditemukan di Punden Mbah Ganden yang berfungsi sebagai tempat pemuja arwah nenek moyang. Ada juga susunan batu temu gelang seperti yang ditemukan di Junrejo (di Punden Gumukan). Sejarahwan mengidentifikasi bahwa jenis punden berundak merupakan tradisi prasejarah yang amat kuno. Sehingga dipastikan Batu (dan Malang Raya umumnya) sejaman dengan era Neolitik, yaitu masa bercocok tanam. Era ini rupanya berkembang ke arah jaman Perundagian dimana masyarakat sudah mengenal pemujaan arwah leluhur.

Petunjuk dari temuan-temuan sejarah menunjukkan bahwa orang Batu kuno tinggal di sekitar Lereng Gunung Kawi, Arjuno, Anjasmoro dan di Bantaran Kali Metro dan Brantas

Otonomi Daerah bergulir maka banyak daerah-daerah di Indonesia mengalami pemekaran termasuk kabupaten Malang. Maka pada tanggal 17 Oktober 2001 kota Batu resmi lepas dari kabupaten Malang dan menyandang status sebagai Kota dengan pemerintahan sendiri. Walikota Batu yang pertama adalah (alm) Drs.H. Imam Kabul, M.Si. Di Malang Raya, secara administratif Batu merupakan daerah yang paling muda dibanding kabupaten dan kota Malang, namun pada aspek sejarah Batu memiliki rangkaian historis yang panjang dan menjadi bagian penting dari sejarah tanah Malang pada umumnya.

Batu termasuk daerah dataran tinggi dengan ketinggian antara 700 – 1300 m di atas permukaan laut (DPL). Hampir semua wilayah Bumiaji adalah perbukitan. Area pemukiman di Batu hanya sekitar 7, 7 % dari total luas lahan, yang paling luas adalah hutan (32, 92 %), sisanya adalah tegalan (sawah) dan perkebunan (5,08 %). Suhu kota Batu sangat dingin.

Batu mengandalkan wisata karena memiliki tempat wisata alam dan buatan yang paling ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun wisatawan manca negara, misalnya wisata JATIM PARK, ECOGREEN, BATU NIGHT SPECTACULER (BNS), Wisata Alam COBAN TALUN, SONGGORITI, Permandian CANGAR, Kuliner PAYUNG / PHARALAYANG dan lain sebagainya.

Batu juga terdapat Kebun Apel dan pusat penjualan Bunga. Kota ini memiliki kontur yang berbukit dan cocok untuk wisata dan petualangan.