Sejarah Binjai

Sejarah Binjai

Kota Binjai merupakan salah satu kota yang terletak di Provinsi Sumatera Utara yang dulunya merupakan Ibu Kota dari Kabupaten Langkat. Binjai terletak 22 km di sebelah barat Ibukota Provinsi Sumatera Utara, yaitu Kota Medan, tepatnya berbatasan langsung dengan Kabupaten Langkat serta Kabupaten Deli Serdang membuat kota ini dapat dengan cepat memacu laju pertumbuhan pembangunan yang mendukung pertumbuhan ekonominya. Hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan pembangunan infra struktur dan pelayanan kepada masyarakatnya.

Kota Binjai yang menobatkan sebagai Kota jasa, Perindustrian, Perdagangan dan Pemukiman telah berupaya meningkatkan laju pertumbuhan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Binjai atas dasar harga berlaku dari tahun ke tahun.

baca juga : Sejarah Bengkulu

Kota Binjai yang dihubungkan oleh jalan raya lintas Sumatera yang menghubungkan antara Medan dan Banda Aceh ini memiliki sejarah yang cukup panjang. Pada zaman dahulu Kota Binjai merupakan tempat persinggahan dan tempat para pedagang untuk melakukan sistem barter dengan warga dari daerah lain. Merujuk dari beberapa referensi, asal-muasal kata “Binjai” merupakan kata baku dari istilah “Binjei” yang merupakan makna dari kata “ben” dan “i-jei” yang dalam bahasa Kara artinya “bermalam di sini”.

Pada awal terbentuknya wilayah Binjai, kota ini merupakan tempat berkumpulnya para pedagang dari dataran tinggi Tanah Kara dan pedagang dari Langkat untuk menukarkan barang yang mereka punya. Dan di Binjai inilah mereka harus bermalam dan kembali melakukan perjalanan panjang menuju daerah mereka lagi. Untuk itulah mereka menamai kampung ini, Binjai. Karena jarak tempuh yang cukup jauh membuat mereka harus bermalam di tempat ini ketika mereka barus melakukan.

Kota Binjai memang terletak di daerah yang sangat strategis, karena merupakan pintu gerbang Kota Medan menuju ke Provinsi Aceh. Selain itu, kota asri ini juga dikelilingi oleh 3 kabupaten dan kota sekaligus, sehingga Kota Binjai bisa menjadi kota transit yang tepat untuk beristirahat atau menyapa saudara yang ada di Kota Binjai.

baca juga : Sejarah Bekasi

Ada cerita dari versi lain yang menceritakan bahwa Kota Binjai berasal dari sebuah kampung kecil di pinggir sungai Binjai. Pada upacara adat dalam rangka pembukaan kampung tersebut diadakan pada sebuah pohon yang memiliki batang besar yang berdiri kokoh di pinggir Sungai Bingai. Di sekitar pohon Binjai yang besar itulah kemudian dibangun beberapa rumah yang lama-kelamaan menjadi besar dan Iuas yang akhirnya berkembang menjadi bandar atau pelabuhan yang ramai didatangi oleh tongkang-tongkang yang datang dari Stabat, Tanjung Pura dan juga dari Selat Malaka.

Kemudian nama pohon Binjai itulah yang akhirnya melekat menjadi nama Kota Binjai. Konon pohon Binjai ini adalah sebangsa pohon embacang dan istilahnya berasal dari bahasa Kara. Kota Binjai dahulunya terletak di antara dua kerajaan besar, yaitu Kesultanan Deli dan Kerajaan Langkat. Inilah yang membuat kota Binjai menjadi kota yang di dominasi oleh suku Melayu.

Secara geografi Kota Binjai berada pada 3’31’40” – 3’40’2″ Lintang Utara dan 98’27’3″ – 98’32’32” Bujur Timur dan terletak 28 m diatas permukaan laut. Wilayah Kota Binjai seluas 90,23 km2, terletak 28 M diatas permukaan laut dan dikelilingi oleh Kab. Deli Serdang, Batas area disebelah utara adalah Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat dan Kecamatan Hamparan Perak Kab.Deli Serdang, di sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Sunggal Kab.Deli Serdang, di sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Sei Bingei Kab.Langkat dan Kecamatan Kutalimbaru Kab.Deli Serdang dan sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Selesai Kab. Langkat.

Kota Binjai terdiri dari lima kecamatan dan tiga puluh tujuh kelurahan. Penduduk Kota Binjai berjumlah 261.490 jiwa, terdiri dari 130.551 laki-laki dan 130.939 perempuan dengan kepadatan penduduk 2.898 jiwa/km2 dan rata-rata 4,34 jiwa per rumah tangga (data tahun 2014). Penduduk Binjai terdiri dari berbagai etnis Melayu, Batak Toba, Batak Mandailing, Batak Karo, Batak Simalungun, Jawa, Banten, Minang, Aceh, China dan India dengan pemeluk agama mayoritas Islam dan yang mempunyai kesadaran politik dan keamanan yang cukup tinggi, sehingga mendukung kondisi keamanan yang sangat kondusif.

Kota Binjai merupakan daerah yang beriklim tropis dengan 2 musim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Di Kecamatan Binjai Selatan curah hujannya cukup besar dibanding dengan kecamatan lainnya, yaitu 214 mm/14 hari hujan, diikuti dengan Kecamatan Binjai Barat 207 mm/8 hari hujan .

Binjai sejak lama dijuluki sebagai kota rambutan karena rambutan Binjai memang sangat terkenal. Bibit rambutan asal Binjai ini telah tersebar dan dibudidayakan di berbagai tempat di Indonesia seperti Blitar Jawa Timur yang kini menjadi komoditi unggulan daerah tersebut.