Meriam Puntung

Meriam Puntung

Bagi masyarakat Kota Medan, Sumatera Utara, pastinya sangat mengenal cerita legenda Meriam Puntung. Ya, Meriam Puntung sampai saat ini masih menjadi suatu misteri asal usulnya. Sebab keturunan sultan sendiri menganggap Meriam Puntung sebagai benda sakti di masa kesultanan yang pertama yaitu Tuanku Panglima Gotjah Pahlawan. Dimana Gotjah Pahlawan mengalahkan Kerajaan Haru.

Kepercayaan turun temurun dari kesultanan pertama sampai ke-14, benda sakti yang dipelihara, maka kesaktian benda itu akan pindah kepada orang yang menyimpannya. Namun, kisah lain dari legenda ini menyebutkankan bahwa Meriam Puntung (Meriam Buntung dalam bahasa Karo) adalah senjata yang digunakan oleh sultan untuk menyerang Kerajaan Haru. Dimana, senjata itu digunakan terus menerus hingga akhirnya terputus menjadi dua bagian. Satu bagian berada di kawasan Istana Maimun, Kota Medan. Sedangkan putusannya berada di Tiga Panah, Kampung Sukanalu, Kecamatan Barus Jahe, Kabupaten Tanah Karo atau dikenal Cagar Budaya Putri Hijau.

baca juga : Pantai Gawu Soyo

Dari legenda yang mendunia itu, ada sesuatu hal yang sangat menakjubkan. Dimana dalam cerita yaitu amunisi dan puntungan dari meriam diledakkan atau digunakan di daerah Kecamatan Delitua, Kabupaten Deli Serdang. Kedua puntungan terlempar jauh, satu di Kota Medan dan satu sampai ke Kabupaten Tanah Karo. Bukan itu saja, konon katanya kekuatan tembakan atau daya hancur Meriam Puntung ini bisa mencapai 80 kilometer.

Selain kisah sebagai senjata saat berperang, Meriam Puntung ini ada disebut jelmaan dari Putri Hijau dari Kerajaan Haru yang memerintah sekitar tahun 1594 Masehi. Peperangan terjadi karena Putri Hijau menolak pinangan dari Sultan Aceh. Lalu Sultan Aceh mengirimkan Panglima Gotjah Pahlawan yang merupakan kesultanan pertama untuk menyerang Kerajaan Haru. Tapi karena bentengnya sangat kokoh, pasukan Aceh gagal menembusnya.

baca juga : Pantai Tureloto

Menyadari jumlah pasukannya makin menyusut setelah banyak yang terbunuh, panglima-panglima perang Aceh memakai siasat baru. Mereka menyuruh prajuritnya menembakkan ribuan uang emas ke arah prajurit benteng yang bertahan di balik pintu gerbang.Suasana menjadi tidak terkendali karena para penjaga benteng itu berebutan uang emas dan meninggalkan posnya. Ketika mereka tengah sibuk memunguti uang emas, tentara Aceh menerobos masuk dan dengan mudah menguasai benteng.

Pertahanan terakhir yang dimiliki orang dalam adalah salah seorang saudara Puteri Hijau, yaitu Meriam Puntung. Tapi karena ditembakkan terus-menerus, meriam ini menjadi panas, meledak, terlontar, dan terputus dua. Keduanya hingga sekarang masih dijaga dan dirawat, dulunya Meriam Puntung di sini, tidak dirawat dan dibiarkan tergeletak di halaman. Sudah beberapa tahun belakangan ini, barulah dijaga dan dirawat.