Kerajaan Aceh

Kerajaan Aceh

Kerajaan Aceh terletak di Aceh Rayeuk (sekarang Aceh Besar), Kerajaan Aceh didirakan oleh Ali Mughayat Syah pada tahun 1496, di atas bekas wilayah Kerajaan Lamuri yang ditaklukan Mughayat Syah. Kerajaan Aceh dibangun diatas tanah bekas pemerintahan beberapa kerajaan Hindu Buddha yang pernah berkembang di Aceh, seperti Kerajaan Indra Purba, Indra Patra, dan Indrapura.

Awalnya Kerajaan Aceh sudah ada lebih awal dari Samudera Pasai. Setelah mengambil alih Samudera Pasai pada 1524, Kerajaan Aceh menjadi penguasa baru diwilayah Aceh. Komoditas yang diperjual- belikan Kerajaan Aceh adalah rempah- rempah dan bahan tambang (lada dan timah sangat melimpah di Semenanjung Malaya). Beras, emas, perak, tekstil, porselen, dan minyak wangi.

baca juga : Kerajaan Sriwijaya

Aceh berkembang pesat ketika Pasai berada di ambang keruntuhan karena serangan Majapahit sekitar tahun 1360. Pasai akhirnya menjadi bagian dari Kerajaan Aceh pada tahun 1524. Pada tahun 1511, Aceh menjadi kerajaan maritime karena Malaka jatuh ke tangan Portugis. Kerajaan Aceh diperintah oleh 8 orang.

Sultan yang memerintah Aceh sangat lama adalah Sultan Alaudin Riyat Syah al-Mukamil (1589- 1604 M). Sultan yang membuat Aceh mencapai puncak kejayaan adalah Sultan Iskandar Muda. Aceh mencapai  puncak kejayaan dengan wilayah kekuasaan meluas dari Deli sampai ke Semenanjung Malaya dan kekuatan militer, terutamanya di angkatan laut.

Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda ada seorang laksamana perempuan namanya Kemalahayati. Kerajaan Aceh juga memiliki armada kapal besar yang bisa mengangkut 600-700 prajurit. Aceh lalu mengalahkan Deli pada tahun 1612M, pada tahun 1613M Aceh juga mengalahi Aru dan Johor.

baca juga : Kerajaan Samudera Pasai

Pada 1614M Aceh berhasil mengalahkan armada Portugis di Bintan, pada 1617M Aceh merebut Pahang. Pada tahun 1620M berhasil mengalahkan Kedah, dan pada tahun 1624- 1625 M Aceh menguasai Nias. Pada tahun 1629M ekspansi Aceh diberhentikan oleh Portugis.

Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda dibuatnya undang- undang tentang tata pemerintahan yang namanya ‘Adat Makuta Alam’ ditulis dengan huruf Arab dan syair Melayu.

Sultan Iskandar Muda sangat memperhatikan kestabilan dan ketahanan kerajaannya, karena itu ia membuat militer yang sangat kuat, dan pada masa itu Aceh memiliki kekuatan militer yang sangat kuat pada masa itu.

Walaupun Sultan Iskandar Muda dianggap berhasil membawa Aceh sampai kejayaannya, tetapi banyak yang membuat kerajaan ini rapuh karena

Masyarakat Aceh bukan masyarakat agraris

Wilayah pedalaman tidak mampu mendukung kebutuhan dasar (pangan) masyarakat kota.

Persatuan antarpenduduk Aceh sangat longgar.

Perkembangan kota berlangsung lebih cepat dibandingkan kemampuan masyarakat pedalaman dalam menunjang kebutuhan masyarakat kota.

Peran kelompok- kelompok elite kerajaan tidak selalu mudah dikendalikan.

Setelah pemerintahan Sultan Iskandar Muda, ia digantikan oleh Sultan Iskandar Tsani (1636-1641). Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Tsani ada salah satu sastrawan namanya Nurudin ar-Raniri dengan karyanya yang paling terkenal berjudul ‘Bustanussalatin’ (Taman Raja-raja). Isi buku tersebut adalah adat istiadat Aceh dan ajaran-ajaran Islam.

Setelah pemerintahan Sultan Iskandar Tsani , Aceh mengalami kemunduran, karena Belanda makin kuat dengan mengambil kuasa akan Pulau Sumatera dan Selat Malaka. Alasan lain Aceh mengalami kemunduran adalah karena adanya perebutan kekuasaan antara golongan bangsawan (teuku) dan golongan ulama (tengku).

Kondisi kebudayaan aceh adalah dibidang kesusastraan dan agama, Aceh juga memiliki ulama- ulama dengan karya- karya yang terkenal. Orang-orangnya adalah Hamzah Fansuri dengan judul buku ‘Tabyan Fi Ma’rifati al-Adyan’ , Syamsuddin al-Sumatrani dengan judul buku ‘Mi’raj al-Muhakikin al-Iman’ , Nuruddin ar-Raniri dengan judul buku ‘Sirat al-Mustaqim’ dan Syek Abdul Rauf Singkili dengan judul buku ‘Mi’raj al-Tulabb Fi Fashil’. Para ulama ini juga terkenal sampai Jawa, bukan hanya di Aceh.