Kehebatan 9 Pendekar Perempuan dalam Sejarah Dunia

Kehebatan 9 Pendekar Perempuan dalam Sejarah Dunia – Para perempuan dalam buku sejarah abad terbaru karya Pamela Toler, Women Warriors, terjun ke dalam pertempuran dengan menunggang kuda, memenggal kepala musuh, memerintahkan eksekusi, melakukan serangan dari hutan, serta memimpin pasukan berjumlah puluhan ribu orang.

Baca juga : Lima Kisah Penyelamatan Dramatis dalam Sejarah Dunia

“Perempuan selalu bertempur,” kata Toler. “Namun, kita sering lupa akan hal itu.”

Teknologi modern seperti tes DNA forensik, beserta pemeriksaan ulang terntang artefak dan dokumen asli, memberikan sejarawan seperti Toler pandangan baru mengenai kehidupan perempuan yang bertempur sendiri atau bersama lelaki.

Mereka adalah pemimpin, kata Toler, “pertempurannya bukan sekadar metafora,”.

Berikut sembilan pendekar perempuan yang kehebatannya tercatat dalam sejarah dunia:

Fu Hao, Jenderal Dinasti Shang (CA 1.200 SM)

Fu Hao.

Fu Hao mungkin pendekar perempuan terawal yang kisah dan namanya kita ketahui. Studi modern dari tulisan Tiongkok Kuno menyatakan bahwa Fu Hao mampu memimpin pasukan dan kampanye perang dengan baik. Di makamnya, terdapat lebih dari 100 senjata.

Cynane, Pemimpin Makedonia (CA 358-320 SM)

Cynane.

Cynane, saudari tiri Iskandar Agung, meraih reputasi sebagai pemimpin militer bertalenta sebelum ia berusia 20 tahun. Ia memimpin pasukan Makedonia dan kemungkinan berperang di atas kuda. Penulis abad kedua Masehi, Polyaenus, mengatakan bahwa Cynane pernah mengalahkan satu pasukan dan langsung membunuh ratunya.

Mawiyya, Pemberontak Anti-Romawi (CA 361-411 M)

Mawiyya

Ratu Arab yang menjanda, Mawiyya, memimpin aliansi suku yang disebut Konfederasi Tanukh. Mereka melangsungkan pemberontakan pada abad ke-4 Masehi melawan orang-orang Romawi. Menggunakan taktik gerilya, Mawiyya, memimpin pasukannya ke Palestina, kemudian mengalahkan legiun Romawi yang akhirnya menerima persyaratannya.

Njinga, Ratu Afrika Barat (1582-1663)

Njinga

Njinga menggunakan taktik gerilya dan diplomasi saat mempertahankan kerajaannya–Ndongo dan Matamba–dari Portugis. Berusia hampir 75 ketika memimpin pertempuran, ia menyiapkan pasukan yang jauh lebih muda dan melatih mereka berperang dengan menggunakan tombak dan panah.

Laskarina Bouboulina, Komandan Perang Yunani (1771-1825)

Laskarina Bouboulina

Pemilik kapal berkebangsaan Yunani, Bouboulina, diam-diam memesan kapal perang, mengumpulkan armada, kemudian memerintahkan mereka untuk berperang dalam rangka memerdekan diri dari Kesultanan Ustmaniyah. Dikenang karena keberhasilannya menyerang angkatan laut di pelabuhan Ustmaniyah, Bouboulina dijuluki sebagai Kapetanisa, Kapten Perempuan.

Juana Azurduy De Padilla, Pemberontak Amerika Selatan (1780-1862)

Juana Azurduy De Padilla.

Azurduy bergabung dengan suaminya, Manuel Padilla, sebagai penentang dominasi Spanyol pada awal abad ke-19. Mereka mengumpulkan pasukan pemberontak dan bertarung bersama di wilayah yang kini dikenal sebagai Bolivia dan Argentian. Azurduy memimpin para prajurit pria, dikenal dengan reputasinya sebagai pemberani di medan perang, dan terus bertempur meski suaminya telah meninggal.

Nakano Takeko, Samurai Jepang (1847-1868)

Nakano Takeko.

Takeko memimpin 30 samurai perempuan melawan tentara kekaisaran pada abad ke-19 di utara Jepang.  Ia dan pasukannya menggunakan senjata naginata dan pedang untuk membunuh para tentara bersenapan. Meninggal akibat luka tembak, Takeko meminta agar kepalanya dipenggal dan dikubur sehingga musuhnya tidak bisa menjadikannya trofi.