Ibu Kota Kerajaan Majapahit Objek Wisata di Jatim

Ibu Kota Kerajaan Majapahit, Objek Wisata di JatimTrowulan dengan berbagai peninggalan sejarah di sekitarnya memiliki hierarki paling kuat sebagai ibu kota Kerajaan Majapahit. Situs Trowulan yang berada di Kabupaten Mojokerto Jawa Timur menjadi salah satu bukti kuat bahwa daerah itu sempat menjadi pusat pemerintahan Majapahit. Kabupaten Mojokerto sendiri diresmikan pada tanggal 9 Mei 1293 dan merupakan wilayah tertua ke-10 di Provinsi Jawa Timur.

Baca juga : Awal Sejarah Permainan Bulu Tangkis

Di sebelah utara, kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Lamongan dan Kabupaten Gresik. Di sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Malang dan Kota Batu. Di sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Jombang. Sementara di sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Pasuruan.

Kabupaten Mojokerto terdiri dari pegunungan di bagian selatan dan utara, dataran sedang di bagian tengah, dan bagian utara berupa perbukitan kapur. Wilayah pegunungan yang meliputi Kecamatan Pacet, Trawas, Gondang, dan Jatirejo memiliki tanah yang subur. Sedangkan wilayah utara yang terdiri dari perbukitan kapur tanahnya cenderung kurang subur.

Situs Bersejarah yang Bisa Dikunjungi Masyarakat Umum

  1. Situs Trowulan

Situs Trowulan ialah satu-satunya situs peninggalan purbakala yang mempunyai bentuk kota dari era kerajaan kuno klasik nusantara dari abad V sampai XV masehi. Terletak di Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto, situs ini dulu juga dikenal sebagai titik awal paling mudah untuk ziarah ke Gunung Pawitra atau yang sekarang kita kenal sebagai Gunung Penanggungan.

  1. Makam Raja Majapahit

Makam ini terletak di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Kawasan makam disebut sebagai Siti Inggil yang dalam Bahasa Indonesia berarti tanah yang tinggi. Di sana bersemayam Raja Raden Brawijaya dan empat istrinya. Para istri itu ialah Garwo Padmi Ghayatri, Garwo Selir Dhoro Pethak, Garwo Selir Ndoro Njiggo, dan Abdi Kinasih Kaki Regel. Di sana juga ada makam Sapu Jagat dan Sapu Angin, dua ajudan Raja Raden Brawijaya.

  1. Pendopo Agung

Pendopo agung ini terletak di Desa Ngelinguk, Kecamatan Trowulan, Mojokerto. Selain bangunan pendopo khas Jawa, ada juga relief-relief yang menceritakan peristiwa-peristiwa besar yang terjadi pada masa Majapahit. Sealin itu juga ada Petilasan Panggung yang berbentuk joglo. Di petilasan ini, beberapa pengunjuk tampak bersemedi.

  1. Candi Tikus

Penamaan Candi Tikus menurut warga dikarenakan saat ditemukan wilayah candi ini menjadi sarang tikus. Candi ini terletak di Desa Temon, Kecamatan Trwoulan, Mojokerto. Pada masa Majapahit, kawasan candi ini digunakan untuk tempat pemandian keluarga raja. Tapi masih terjadi perdebatan di kalangan sejarawan. Ada yang menyebut kawasan Candi Tikus dibangun sebagai tempat penampungan dan penyaluran air bagi rakyat Trowulan.

  1. Candi Bajang Ratu

Candi Bajang Ratu diyakini merupakan pintu belakang kerajaan Majapahit. Candi ini didominasi oleh bahan batu bata merah dan sebagian batu andesit untuk lantai tangga dan ambang pintu bawah serta atas. Sama-sama terletak di Desa Temon, Kecamatan Trawas, Candi Bajang Ratu cukup dekat dengan keberadaan Candi Tikus.

Jaraknya sekitar 0,7 kilometer. Kepercayaan lokal mengenai Candi Bajang Ratu bahwasanya seorang pejabat pemerintah pamali jika melewati candi yang berbentuk gerbang ini. Alasannya, bisa mendatangkan hal buruk. Kepercayaan ini dilatarbelakangi oleh peristiwa jatuhnya Raja Jayanegara di Candi Bajang Ratu yang mengakibatkan kecacatan pada tubuhnya.

6. Candi Brahu

Dibangun dengan batu bata merah, dengan panjang sekitar 22,5 meter, lebar 18 meter, dan panjang 20 meter. Candi yang menghadap kea rah barat itu terletak di Desa Bejijong. Kecamatan Trowulan. Pada zaman Majapahit, candi ini digunakan sebagai tempat pembakaran jenazah raja-raja.

  1. Candi Gentong

Candi Gentong terletak di Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Mojokerto. Candi ini mempunyai ukuran 23,5 X 23,5 meter dengan tingginya 2,45 meter. Candi yang diperkirakan berdiri sekitar abad ke-14 ini memiliki latar belakang agama Budha. Pada saat penggalian candi ini ditemukan artefak-artefak seperti pecahan keramik China, fragmen tembikar, mata uang China, emas, acra Budha, dan stupika.

  1. Candi Wringin Lawang

Candi Wringin Lawang dibangun dengan luas dasar 13 x 11 meter dan tinggi 15,5 meter. Candi ini berbentuk gapura terbelah yang menjadi ciri bangunan pada masa Majapahit. Bangunan sejenis ini sekarang banyak ditemui di Bali. Candi Wringin Lawang diduga kuat sebagai gerbang masuk kawasan ibu kota Majapahit. Candi ini terletak di Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan, Mojokerto.