Gunung Patah

Gunung Patah

Barangkali tak banyak yang tahu kalau Bengkulu memiliki gunung yang masih diliputi dengan banyak misteri. Kebanyakan mungkin lebih kenal Gunung Berapi Bukit Kaba yang terletak di Desa Sumber Urip, Kecamatan Selupu Rejang, Kabupaten Rejang Lebong. Gunung yang kerap menjadi wahana pendakian bagi pencinta alam tersebut memiliki ketinggian sekitar 1.938 meter di atas permukaan laut.

Namun, kamu tidak boleh mengabaikan gunung tertinggi yang ada di Bumi Raflessia. Gunung tersebut adalah Gunung Patah dengan tinggi 2.817 meter di atas permukaan laut. Tak kalah dengan Bukit Kaba, gunung yang berada di garis perbatasan Provinsi Bengkulu dan Sumatera Selatan menarik untuk ditelusuri. Apalagi lokasinya tepat di dalam kawasan hutan lindung Raje Mendare yang merupakan sumber mata air bagi dua provinsi.

Masih belum banyak yang berhasil mendaki karena sulitnya akses ke Gunung Patah. Makanya banyak yang menyebut kawasan ini sebagai gunung perawan. Sejumlah pendakian kerap dilakukan untuk sekadar berburu. Sejumlah penduduk setempat juga seringkali ke kawasan ini untuk mencari kayu. Tapi bukan berarti tidak ada yang sukses mencapai puncak. Pendakian hingga ke puncak tertinggi sempat dilakukan pada Maret 2017 lalu. Berbagai komunitas pencinta alam dan pendaki gunung juga mulai menaklukkan kawasan misterius ini.

Bagi kamu yang senang menantang adrenalin, Gunung Patah adalah medan pertarungan yang sangat cocok untuk dirimu. Hal ini dikarenakan, gunung ini perlu perjuangan ekstra untuk ditaklukkan. Terdapat tiga puncak utama pada Gunung Patah. Puncak tersebut adalah Puncak Danau setinggi 2.550 mdpl, Puncak Kawah pada ketinggian 2.650 mdpl dan Puncak Gunung Patah pada ketinggian 2.817 mdpl.

baca juga : Danau Tumutan Tujuh

Menuju ke lokasi terdekat Gunung Patah, kamu harus menempuh perjalanan darat selama enam hingga tujuh jam perjalanan dari pusat Kota Bengkulu. Titik terdekat tersebut berlokasi di Kecamatan Padang Guci Hulu, Kabupaten Kaur.

Perjalanan akan berawal dari Desa Manau Sembilan dengan menyusuri sungai Padang Guci dan Sungai Cawang yang berada pada ketinggian 2.550 mdpl. Kemudian, kamu pun harus menyusuri lembah-lembah danau menuju arah timur laut. Di ketinggian 2.600 mdpl, kamu pun akan menjumpai anak sungai yang mulai menguarkan bau belerang. Totalnya, pendaki membutuhkan waktu selama sepekan untuk tiba di puncak tertingginya.

Kawasan Gunung Patah juga dilimpahi dengan vegetasi tinggi dan satwa liar yang endemik. Saat menjelajah ke kawasan ini, kamu akan menemukan semak cantigi gunung atau pohon panjang umur di ketinggian 2.650 mdpl. Sebagian besar lokasinya berada di sisi barat jalur. Selain itu, tumbuhan kantung semar, anggrek hutan, dan edelweiss pun bisa disaksikan di Gunung Patah. Bahkan, tumbuhan khas Bengkulu yaitu bunga Raflessia Arnoldi juga tumbuh di sini.

Vegetasi yang sangat rapat di kaki gunung menjadi habitat yang pas bagi pohon rotan manau. Tak hanya itu, terdapat dua sungai besar dalam trek pendakian, yaitu Sungai Padangguci dan Sungai Cawang Kidau. Sehingga, pecat dan tawon tidak jarang bisa ditemui saat mendaki.

baca juga : Danau Kembar

Gunung ini memang tak hanya kaya akan flora. Satwa liar  di Gunung Patah juga tak kalah beragam, lho. Sejumlah pendaki menyaksikan adanya beberapa spesies mamalia, seperti owa, siamang, rusa, beruang madu, dan macan tutul. Jadi, tetap waspada selama melakukan pendakian, ya.

Puncak Gunung Patah memiliki kawah dan danau yang memikat. Kalau ingin menikmati kawah kaldera, pendaki bisa menuju ke Puncak Kawah yang berada di sisi barat gunung. Sementara itu, sisi selatan ini gunung ini memiliki kawah yang memiliki air sehingga mirip seperti danau. Nama kawasan ini bahkan disebut dengan Danau Tumutan Tujuh. Kalau pendaki ingin menuju ke puncak tertinggi, maka harus memutari bibir kawah terlebih dahulu. Kawah tersebut seluas 2 hektar dan masih mengepulkan asap. Pengalaman ini pasti akan selalu dikenang, deh.

Seperti gunung pada umumnya di Sumatera dan di Indonesia, Gunung Patah juga memiliki cerita turun-temurun yang dipercaya sebagai mitos. Sejumlah masyarakat setempat pun masih memercayai mitos kalau Gunung Patah menjadi habitat bagi suku unik. Suku tersebut disebut “sindai” atau gugu” dengan karakteristik yaitu memiliki tubuh pendek. Kebenarannya pun masih menjadi misteri dan tanda tanya sampai sekarang.