Desa Kemumu

Lorong Watu Desa Kemumu

Ada satu lagi destinasi wisata alam di daerah Bengkulu Utara yang sangat unik dan memanjakan mata juga paru-paru kita. Namanya, Lorong watu (dalam bahasa Jawa, karena disana banyak warga trans yang aslinya dari Pulau Jawa) yang artinya lorong batu, yang kemudian diplesetkan oleh para pengunjung yang rata-rata anak-anak muda ini menjadi “lorong waktu”.

Lebih kurang dua jam perjalanan dari pusat Kota Bengkulu, tepatnya di Desa Kemumu, Argamakmur Bengkulu Utara. Sepanjang perjalanan kita akan disuguhi pemandangan alam pedesaan yang asri, daerah persawahan yang rapih dan cantik, aliran sungai di kiri kanan jalan menuju ke titik startnya. Ditemani guide dari tim PMI Argamakmur: Cintya Klana and Team kita mulai berjalan kaki setelah menitipkan kendaraan di tempat parkir yg merupakan halaman rumah warga disana. Untuk satu unit mobil hanya Rp 10.000.

baca juga : Air Terjun Curug Sembilan

Lorong watu ini adalah aliran sungai yang diapit semacam dinding batu alam yang abstrak dan sangat artistik. Di hulunya terdapat air terjun yang walaupun tidak terlalu tinggi, tapi alirannya sangat deras. Sungainya tidak terlalu dalam. Sekalipun ada titik yang dalam dan sangat cantik dengan warnanya yang kehijauan, tapi tidak terlalu lebar. Buat yang tidak bisa berenang, jangan takut untuk melompat. Paling-paling derasnya arus akan cepat “menghanyutkan” kita ke arah yang dangkal hanya dalam beberapa detik saja.

Medan perjalanan kesana tergolong biasa, hanya sedikit tebing di awal perjalanan. Dalam perjalanan kami sempat bertemu beberapa warga yang sedang memperbaiki jalan tanah yang cukup licin itu. Sepertinya jalan itu sudah bisa dilewati kendaraan roda dua (offroad). Kurang dari satu jam (karena kebanyakan selfie di tengah jalan, hehee..) kami sudah sampai di bibir sungai aliran lorong watu. Disana juga terlihat warga yang sedang membuat area parkir untuk kendaraan roda dua. Wah, ke depannya akses jalan bukan halangan lagi untuk berkunjung kesini.

baca juga : Sungai Manna

Nah, start dari bibir sungai kita akan cukup terkejut karena guide mengajak menyeberangi sungai yang sangat deras itu sampai 3-5 kali. Belum ada tali tambang atau apapun untuk berpegangan. Kalau untuk newbie lumayan bahaya juga. Apalagi yang belum hapal betul dengan medannya. Kalau saja ada semacam tambang diikat dari hulu lorong sampai ke titik awal penyeberangan akan lebih bagus dan aman lagi bagi pengunjung. Sehingga pengunjung tidak perlu sampai beberapa kali menyeberang hanya untuk memudahkan berjalan menuju ujung lorong. Di beberapa titik ada tali rotan yang cukup membantu untuk pegangan kita menuju ke hulu lorong.

Seperti namanya, lorong watu dikelilingi batuan sungai yang besar, tajam dengan aliran air yang sangat deras. Bagi yang belum terbiasa wajib lah mengenakan perlengkapan safety, seperti: sandal gunung/sepatu sport (tidak usah pakai kaos kaki), rompi pelampung, sarung tangan dan bila perlu setiap satu tim/rombongan membawa tali tambang ukuran sedang.

Disarankan juga kalau bermain-main air disana tidak terlalu lama, karena suhu air gunung yang sangat dingin ditambah dengan suara air terjun yang deras dan kuat dipantulkan dari tebing-tebing dan bebatuan besar disekelilingnya akan membuat sakit gendang telinga kita.

Nah setelah lama bermain-main di hulunya, maka ketika jalan pulangnya tidak akan terasa lama lagi. Aliran air yang awalnya terasa berat dan deras, akan terasa jauh lebih ringan karena fisik kita sudah mulai terbiasa. Suasana alam yang sangat alami akan membuat fikiran kembali fresh dan nuansa keakraban & kekeluargaan bersama sahabat & keluarga akan makin mengental.